Tas Noken, Warisan Budaya Yang Harus Diselamatkan
anak-anak Papua membawa Noken (nirmeke.com)

Direktur Ekologi Papua yang mencetus tas Noken ke UNESCO, Titus Krist Pekei meminta Pemerintah Pusat dan pemerintah provinsi di Tanah Papua, serta pemerintah kabupaten/kota dan semua pihak, untuk menyelamatkan Noken dari kepunahan, dengan tidak merusak lingkungan dan hutan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau Litbang juga harus mengidentifikasi bahan baku Noken. Noken merupakan tas asli Papua yang terbuat serat pohon, kulit kayu, rumput rawa, daun pandan, dan rotan. Ketika menebang bahan-bahan baku Noken atas nama pembangunan, maka saat itu juga oknum-oknum perusak justru menghilangkan eksistensi Noken.

“Kita harus budidayakan bahan baku (Noken) sesuai kearfian lokal masyarakat setiap suku atau kabupaten,” katanya kepada Jubi per seluler, Jumat (5/3/2021).

Di Tanah Papua terdapat 250-an suku. Tiap suku mempunyai tas Noken dengan motif dan kearifan lokal dan filosofi suku-sukunya. Namun, secara umum hanya ada dua jenis Noken, yaitu Noken anyam dan Noken rajut.

Baca juga: Kejuaraan Road Race Bupati Cup Maurake Resmi Digelar

Noken yang memiliki simbol kehidupan yang baik, perdamaian dan kesuburan, terdaftar sebagai warisan budaya dunia takbenda pada 4 Desember 2012 di Paris, Prancis. Titus Pekei berjuang untuk mengusulkan tas Noken ke markas UNESCO, karena berlandaskan pada Konvensi 2003 tentang perlindungan budaya takbenda.

Pada tahun 2007 dan 2008 Indonesia mendaftarkan beberapa warisan budaya khas Indonesia, seperti, keris, wayang, angklung, tari saman Gayo Aceh ke UNESCO. Sebagai orang asli Papua yang tinggal di perantauan, Titus pun tergerak hatinya untuk memperjuangkan tas Noken agar terdaftar sebagai warisan dunia takbenda. Awalnya ia mengusulkan tiga warisan dari Bumi Cenderawasih, yakni, ukiran, kerajinan tangan, dan Noken. Tapi hanya Noken yang bisa diterima dan terdaftar sebagai warisan dunia tak benda pada 4 Desember 2012.

Tas Noken Memiliki Fungsi Nilai Dalam Kehidupan Masyarakat

Masyarakat menganggap tas Noken sebagai bekal kehidupan, karena menyangkut fungsi nilai, makna filosofi, ada nilai makna filosofi sendiri. Noken merupakan tempat menyimpan, membawa, membagi, dan menyelesaikan segala masalah.

Warisan budaya dari salah satu daerah atau negara berdasarkan hukum konvensi perlindungan budaya takbenda, memerlukan perlindungan mendesak. Pada pasal 17 menyebutkan bahwa Noken memerlukan perlindungan mendesak.

Baca juga : Noken Papua Menjadi Gambar Untuk Google Doodle

“Noken memiliki kekhasan, keunikan, tak tergantikan. Maka itu tanggung jawab negara, pemda, dan setelah ditetapkan (UNESCO), kita didesak untuk selamatkan Noken. Tapi kembali kepada sejauh mana rasa keberpihakan, rasa memiliki,” katanya.

Dia juga mengusulkan kepada pemerintah agar menyediakan sanggar bagi mama-mama Papua perajin tas Noken agar mereka dapat belajar di sanggar. Pemeirntah pusat harus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

“Mama-mama semangatnya jauh karena tiap hari anyam Noken. Lalu (pemerintah harus) melibatkan lembaga masyaraat adat setempat dan harus koordinasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan dan adat,” katanya.

Sekretaris II Dewan Adat Papua, John N.R. Gobai menyampaikan pendapat yang sama. Ia mengatakan bahwa di Kota Jayapura ada museum Noken. Museum Noken tersebur tepatnya di kawasan Expo-Waena, Distrik Heram, tapi museum itu tidak dapat perhatian dengan baik.

Oleh sebab itu, Gobai berharap agar pemerintah memfungsikan museum itu, sebagai workshop dan pameran, serta tempat menjual Noken bagi mama-mama Papua.

“Hal yang lain adalah melalui Dinas Kehutanan mungkin juga dikembangkan penanaman dan budidaya bahan dasar pembuatan Noken sebagai hasil hutan bukan kayu,” katanya.