Tata Cara Mengganti Puasa Ramadhan
beritapapua.id - Ilustrasi niat buka puasa (foto : freepik)

Beritapapua.id – Berikut tata cara mengganti puasa ramadhan beserta niat bacaan puasa qadha.

Kendati bulan Ramadhan sudah selesai, namun ada sebagian dari kita yang masih harus melakukannya pada bulan lain. Hal ini karena mereka berhalangan melakukan puasa tersebut pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu, mereka wajib mengganti puasa tersebut pada bulan lain.

Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al Baqarah ayat 85 yang berbunyi,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ia tinggalkan itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dalam ayat tersebut, adapun halangan atau uzur dalam berpuasa Ramadhan adalah sakit dan melakukan perjalanan. Lantas, bagaimana dengan mereka yang sengaja meninggalkan puasa Ramadhan?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjelaskan bahwa perilaku tersebut tidak memerlukan qadha. Beliau menjelaskan bahwa segala suatu amalan wajib yang seseorang tinggalkan karena sengaja tak perlu ada ganti.

Hal ini mengacu pada sabda Nabi,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Artinya, segala amalan yang tertundah atau tidak kita lakukan harus atas dasar uzur atau halangan. Jika meninggalkannya dengan sengaja, maka hal tersebut sudah termasuk pada niat untuk tidak melakukannya. Dan, tidak ada ganti untuk amalan tersebut.

Selanjutnya, terdapat beberapa aturan dan tata cara melakukan puasa qadha.

Beberapa Catatan dalam Melakukan Puasa Qadha

Pertama, kita harus berniat pada malam hari sebelum melakukan puasa esok harinya. Adapun niat yang perlu kita lafalkan adalah sebagai berikut,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.

“Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”

Selanjutnya, puasa qadha Ramadhan hukumnya adalah wajib. Oleh karenanya, sebaiknya kita lakukan sesegera mungkin. Kendati demikian, jika tidak mampu membayarnya sesegera mungkin, maka boleh melakukannya pada waktu lain.

Dengan catatan, tidak sampai pada bulan Ramadhan berikutnya. Jika hal ini terjadi, maka wajib membayar fidyah. Selain itu, puasa wajib ini tidak kita batalkan pda tengah hari tanpa adanya uzur.

Baca Juga : Bupati Yahukimo Minta Pelaku Kembalikan Senjata Rampasan Dari TNI

Hal ini berbeda dengan puasa sunnah. Pada puasa sunnah, kita boleh membatalkannya siang hari jika ada kondisi tertentu. Misalnya, ajakan makan oleh tamu tertentu atau karena dorongan lainnya.

Ketiga, tidak perlu mengqadha puasa wajib secara berturut-turut. Hal ini untuk memudahkan umat muslim jika sekiranya memberatkan mereka dalam berpuasa. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 184,

فعدة من أيام أخر

“Hendaklah mengqadha’ (mengganti puasanya) di hari lainnya.” (QS. Al-Baqarah: 184, 185)

Terakhir, gantilah puasa tersebut dengan jumlah yang sama. Misalnya, kita batal 1 hari pada bulan Ramadhan, maka gantilah dengan 1 puasa.

Dengan demikian, itulah tata cara dan aturan dalam mengqadha puasa. Adapun sebaiknya kita lakukan sesegera mungkin agar kita bisa melakukan puasa sunnah lainnya.