Tawakal Itu Kunci Usaha Mencari Rezeki
Tawakal Itu Kunci Usaha Mencari Rezeki

Tawakal Itu Kunci Usaha Mencari Rezeki – Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan takdir seseorang. Sebagaimana Ibnu Mas’ud meriwayatkan, Allah menetapkan 4 hal tentang manusia. Yakni rezeki, ajal, amal, dan perkara sengsara atau berbahagia.

Salah satu yang kadang kita lupakan adalah takdir mengenai rezeki. Kadang kita lupa bahwa rezeki adalah urusan Allah subhanahu wa ta’ala dan Dia akan memberikan sesuai kadarnya.

Hal ini jelas berbeda dengan pandangan bahwa untuk meraih rezeki kita perlu berusaha. Lantas, bagaimana menyikapinya? Mengapa kita harus berusaha padahal Allah sudah menakdirkan rezeki untuk kita?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat An Najm ayat 39,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah mereka usahakan.”

Dengan demikian, apakah kita harus berupaya mencari rezeki? Dan, usaha seperti apa yang harus kita lakukan?

Usaha Mencari Rezeki

Baca juga: PB PON XX Papua Minta Bantuan Pesawat dan Kapal ke Menkopolhukam

Mari perhatikan hadis berikut. Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Menurut sebagian besar ulama, mereka sepakat bahwa tawakal adalah kunci dari pintu rezeki. Hal ini sesuai dengan firman Allah,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Ada beberapa tafsir terkait ayat dan hadis tersebut. Pertama, Ibnu Rajab rahimahullah menyebut bahwa tawakal adalah sebab datangnya rezeki. Terkait hal tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوْا بِهَا لَكَفَتْهُمْ

“Seandainya manusia seluruhnya memperhatikan ayat ini, tentu hal itu akan mencukupi mereka.”

Kedua, tawakal bukan artinya tidak berusaha sama sekali. Tawakal itu artinya berupaya sambil memahami ketetapan Allah padanya. Mari kita pahami makna tawakal.

Tawakal Kunci Usaha: Bersandar kepada Allah

Perihal makna tawakal, Ibnu Rojab rahimahullah menjelaskannya dalam Jami’ul Ulum wal Hikam. Beliau mengatakan,

”Tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata’.”

Tawakal menjelaskan hadis sebelumnya bagaimana burung mendapatkan makanannya. Bahwa, kita perlu menjemput rezeki kita dengan tetap bertawakal. Imam Ahmad menyebut bedanya berusaha mencari rezeki dan berusaha tawakal.

Perbedaannya terletak pada sebab dan akibat. Misalnya, seseorang bekerja dan mendapatkan uang. Ia tidak boleh bersandar kepada pekerjaan tersebut. Sebaliknya, kita harus memahami bahwa Allah adalah pemberi rezeki.

Dengan demikian, tawakal tak berarti hanya beribadah tanpa mencari rezeki. Meski Allah ta’ala sudah menetapkan rezeki, namun kita harus tetap berupaya mencarinya. Ini adalah bentuk tawakal juga. Namun, perlu kita ketahui bahwa kita tetap harus mengutamakan beribadah dan kepatuhan kepada ajaran agama.