Te Henua e Nnono
Beritapapua.id - Te Henua e Nnono

Te Henua e Nnono. Bahasa masyarakat Takuu, Papua Nugini, yang berarti: dahulu pernah ada pulau di sana.

Te Henua e Nnono

Te Henua e Nnono merupakan judul sebuah film dokumenter yang mengisahkan kehidupan di Takuu. Sebuah atol, kepulauan berbentuk cincin yang terbentuk dari karang laut. Karang yang menjulang tinggi dari dasar laut menjadi dataran yang dihuni sebagian masyarakat Takuu. Film itu memperlihatkan bagaimana pemanasan global menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia, dalam kasus ini, masyarakat Takuu.

Air laut menjadi kawan, tempat masyarakat Takuu mencari pangan. Begitu pasang, kawan menjadi lawan. Film itu memperlihatkan kengerian air laut yang menyeruak memasuki permukiman warga tanpa aba-aba. Masyarakat Takuu sudah menghuni pulau itu lebih dari 1000 tahun. Kini mereka bersedih menghadapi ulah para penyamun. Tak sadarkan pemanasan global telah merenggut kehidupan mereka?

Takuu Yang Terisolasi Dari Dunia

Baca juga: Wor dan Yospan, Dua Tarian Adat Pelindung Asal Papua

Tanpa adanya listrik, pasar, dan minimnya transportasi membuat Takuu terisolasi dari dunia. Namun dibalik seluruh ancaman itu, dibalik kesunyian yang diciptakan dari keterisolasian mereka dari dunia, terdapat sejumput keindahan yang tak terjamah oleh siapapun. Alam yang indah, hamparan laut yang luas, langit biru yang memesona, menjadi milik mereka. Tak hanya itu, budaya mereka begitu memesona. Salah satu yang tercatat oleh sejarah adalah seni tari dan lagu yang diciptakan oleh masyarakat Takuu. Mereka merupakan salah satu suku bangsa yang gemar menciptakan lagu. Richard Moyle, seorang peneliti yang menulis sebuah buku mengenai etnografi musik di Takuu mencatat sejumlah lirik yang dibuat oleh masyarakat Takuu.

Se vaka ni ä? What did it do?

Se vaka ni aro mai ki taku henua. It rowed ashore at my island.

Uäië, se vaka ni ä? What did it do?

Se vaka ni aro mai ki Nukurekia. It rowed ashore at Nukurekia.

Nimo ake, takai ake, I went from there and walked around the land;

e noho ka tohitohia ko taku henua nei. I stayed while my island was being swept clean.

(apa yang ia lakukan? Ia mendayung ke tepi pantai pulau ku. Apa yang ia lakukan? aku
pergi dari sana dan mengitari pulauku. Aku tinggal sejenak di pulau ku yang tengah
tersapu bersih)

Lirik lagu tersebut dikutip dari buku yang ditulis oleh Richard Molye mengenai etnografi musik masyarakat Takuu. Lirik tersebut sayu, menggambarkan kesedihan masyarakat Takuu terhadap gempuran naiknya air laut ke dalam tempat tinggal mereka.

Ini seharusnya menjadi tamparan bagi komunitas dunia, bahwa ancaman pemanasan global begitu nyata. Suhu terik di siang hari yang menusuk kulit seakan tak mampu membuka mata. Angin ribut, hujan badai, banjir bandang, semua itu pula belum mampu menyadarkan. Takuu mengajarkan dunia satu hal: apabila pemanasan global tidak dihiraukan, tak hanya Takuu yang akan tenggelam. Tapi “dahulu pernah ada pulau” akan menjadi “dahulu pernah ada benua.” Ekskalasi bencana itu bisa saja terjadi dalam kedipan mata.