Teknologi dan Pendidikan Menjadi Tolak Ukur Kesiapan Bangsa
Teknologi dan Pendidikan Menjadi Tolak Ukur Kesiapan Bangsa

Teknologi dan Pendidikan Menjadi Tolak Ukur Kesiapan Bangsa – Hasil riset Badan Pusat Statisik (BPS) terbaru, Indonesia akan memiliki bonus demografi pada tahun 2020-2035. Bonus demografi dapat meningkatkan laju perekonomian negara karena adanya ledakan penduduk di usia produktif (15-64 tahun) dengan persentase sekitar 64%. Namun hal itu tentu saja dapat terjadi apabila pemerintah dan semua pihak mampu bersinergi dan mempersiapkan potensi sebaik mungkin bagi para kaum produktif terutama dalam bidang pendidikan.

Kenapa pendidikan? Semakin tinggi jumlah usia produktif pada satu periode, maka akan semakin tinggi tingkat persaingan yang harus dihadapi. Dengan kondisi seperti ini, setiap orang harus mampu mempersiapkan keahlian ataupun pengetahuan. Sehingga mampu mendorong potensi dan peluang bangsa dengan sebaik mungkin untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama. Hal tersebut hanya bisa terjadi apabila pendidikan dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

Baca Juga: MeMiles dan Investasi Bodong

Perkembangan Teknologi di Masa Kini

Kemajuan teknologi membawa peradaban manusia pada tingkat yang berbeda. Internet telah memenangkan jalan hidup bagi banyak kaum muda dengan kemudahan dalam melakukan transaksi maupun memperoleh informasi. Hal ini tentu memiliki dampak baik dan buruk. Dampak baiknya yaitu, setiap orang bisa mencari dan menerima informasi yang mereka akses melalui smart phone dengan adanya koneksi internet. Sebaliknya, jika kemudahan ini tidak dibekali oleh pemahaman bahwa “sekadar” mencari, membaca, dan menemukan informasi tidaklah cukup untuk kemudian memahami konteks sesuai kebutuhan hingga melahirkan persepsi tunggal dari pengakses dan memungkinkan terjadi penyalahgunaan yang dapat merugikan banyak pihak.

Belum lagi telah timbul permasalahan bagi hampir semua kalangan terutama anak-anak yang telah bersentuhan dengan gadget. Mereka mengalami kecanduan yang cukup berbahaya. Kecanduan game online yang bahkan mengabaikan pemenuhan dasar mereka sendiri seperti makan, belajar, dan bersosialisasi. Hal tersebut menjadi ancaman nyata yang menghantui. Bukan hanya orang tua tetapi juga pihak sekolah. Bagi para sebagian orang tua, pemberian gadget terhadap anak dinilai mampu untuk meredam sikap “rewel” anak . Baik itu ketika di rumah, di tempat umum, atau bahkan di kendaraan seperti mobil dan pesawat. Gadget dianggap mampu memenuhi “kebutuhan” anak agar bisa diam dan tertib karena terfokus pada tontonan atau permainan yang mereka temukan pada gadget. Akibatnya anak-anak menjadi pasif, dan bahkan secara fisik merusak pengelihatan dan saraf.

Fenomena ini menjadi suatu catatan tersendiri untuk kita agar mampu bijak dan aktif mencari cara dan mempelajari keunggulan dan kelemahan dari kemudahan teknologi itu sendiri. Indonesia sebaiknya mampu menyikapi dan menanggulangi hal ini dengan memberikan pendidikan dan pemahaman mendalam serta detail dalam menyikapi perubahan zaman dan perkembangan teknologi dalam menyambut periode bonus demografi.