Teluk Bintuni Kawasan Mangrove Terbesar di Indonesia
Teluk Bintuni Kawasan Mangrove Terbesar di Indonesia

Teluk Bintuni Kawasan Mangrove Terbesar di Indonesia – Teluk Bintuni merupakan salah satu kawasan mangrove terbesar di Indonesia. Teluk Bintuni terletak di kabupaten pemekaran baru, Papua Barat yang disahkan pada 12 November 2002, terletak di antara Pantai Selatan Kepala Burung dan Pantai Semenanjung Onin.

Kabupaten Teluk Bintuni adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat, Indonesia. Kabupaten Teluk Bintuni terdiri dari 24 kecamatan, 2 kelurahan, dan 115 desa. Pada awal pembentukannya, Kabupaten Teluk Bintuni terdiri dari 10 distrik. Distrik Bintuni, Distrik Sumuri, dan Distrik Manimeri adalah 3 distrik dengan urutan teratas yang memiliki jumlah penduduk terbanyak. Luas wilayah Kabupaten Teluk Bintuni adalah 1811.4 hektar atau meliputi 13,02 % wilayah Provinsi Papua Barat. Luas kawasan mangrove di daerah ini 225.367 hektar atau 52 persen dari total keseluruhan hutan mangrove di Papua Barat. Hutan mangrove sering juga disebut hutan bakau. Istilah hutan bakau kurang tepat karena bakau hanyalah nama lokal dari marga rhizophora. Sementara hutan mangrove disusun dan ditumbuhi oleh banyak marga dan jenis tumbuhan lainnya.

Baca Juga: Ikatan kebersamaan Masyarakat Papua yang Mengakar

Fungsi Hutan Mangrove

Hutan mangrove merupakan ekosistem  khas di wilayah pesisir dan dipengaruhi pasang surut air laut. Bagi masyarakat pesisir khususnya, hutan mangrove disadari atau tidak, mempunyai fungsi sangat strategis secara ekologi, sosial, maupun ekonomi dalam kehidupannya. Tahun 1982, luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan sekitar 4,25 juta ha. Hutan Mangrove tersebut terdapat di sepanjang pesisir pulau-pulau besar Indonesia. Pada tahun 1987, luas hutan mangrove tersebut telah berkurang dan hanya tersisa 3,24 juta ha. Bahkan pada tahun 1995 dilaporkan bahwa hutan mangrove Indonesia hanya tersisa 2,06 juta ha, yang berarti berkurang seluas 1,18 juta ha. Hutan mangrove terbentuk karena adanya perlindungan dari ombak, masukan air tawar dari sungai, sedimentasi dan aliran air pasang surut.

Kondisi tersebut juga sesuai dengan penjelasan Gunarto (2004) bahwa mangrove biasanya berada di daerah muara sungai atau estuarin sehingga merupakan daerah tujuan akhir dari partikel-partikel organik ataupun endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu akibat adanya erosi. Dengan demikian, daerah mangrove merupakan daerah yang subur, baik daratannya maupun perairannya, karena selalu terjadi transportasi nutrien akibat adanya pasang surut.