Teluk Bintuni Memasuki Fase Transformasi Remaja
Teluk Bintuni Memasuki Fase Transformasi Remaja

Teluk Bintuni Memasuki Fase Transformasi “Remaja” – Budaya dan kearifan lokal sudah selayaknya mendapatkan tempat yang lebih di masyarakat manapun yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pengetahuan mengenai wilayah, suku, alam, sosial, dan budaya yang telah hidup dan mendiami suatu wilayah selama bertahun-tahun dan telah menjadi kekayaan leluhur tidak seharusnya dilupakan begitu saja.

Ada sebab dan alasan kenapa pengetahuan lokal tersebut mampu bertahan dan menghidupi sebuah komunitas atau kelompok masyarakat. Hal ini menguatkan bahwa pengetahuan dan ilmu tersebut memang sewajarnya mampu menjadi tolak ukur pedoman hidup yang membuat anggota dari kelompok masyarakat tersebut untuk bertahan hidup tanpa merugikan diri mereka serta lingkungan sekitar.

Adanya sebuah masa transisi di Teluk Bintuni sendiri perlu diperhatikan agar tidak menggerus pengetahuan dan kearifan lokal mereka selama ini. Pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat di kampung-kampung lokal itu terbangun dari hasil pembelajaran yang evaluatif, dialogis, dan reflektif. Dirawat dan dijaga oleh kekerabatan sosial yang erat, balutan adat yang adaptif terhadap arus modernisasi, budaya gotong royong dan saling tolong menolong, dan prinsip harmoni kebersatuan sesama manusia dan alam.

Baca Juga: Penunjang Kehidupan Masyarakat Bintuni

Fase Transformasi Teluk Bintuni

Dengan basis kekuatan pengetahuan lokal yang kaya itu, mereka melangkah, berkembang maju, dan merajut makna hidup. Dalam keseharian hidup yang dilingkupi aktivitas bertani dan berladang, hari-hari masyarakat kampung di sana kurang lebih dihabiskan untuk makan, bersenda gurau, pergi bersekolah, mencari ikan gabus di selokan, membetulkan atau membangun sudut-sudut kampung, pergi ke pasar di kota, ibadah di gereja, berkalung panah berburu ke hutan, duduk-duduk di atas undakan kayu di pekarangan, bermain voli atau bola, riuh berpesta pora, dan sesekali mabuk-mabukan.

Seiring dengan berkembangnya Teluk Bintuni menjadi kawasan industri, keseharian dan kegiatan mereka sehari-hari juga berubah. Mereka mulai menyesuaikan dengan perkembangan kota tersebut yang mungkin tak sesunyi dan seintim sebelumnya. Kaum pendatang pun akan sedikit banyak membawa pengaruh pada budaya bekumpul, ataupun bekerja. Konsep produktif keduanya pastilah akan memiliki perbedaan. Teluk Bintuni menjadi seperti seorang anak yang berada dalam fase transformasi menjadi remaja. Hal tersebut diakibatkan banyaknya perubahan yang menjadikannya lebih siap untuk hari esok.