Ternyata Ini Alasan Diusulkannya RUU Ketahanan Keluarga
beritapapua.id - Ternyata Ini Alasan Diusulkannya RUU Ketahanan Keluarga

Saat ini pembahasan mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga yang sudah masuk kedalam program legislasi nasional (prolegnas) DPR terus mendapat reaksi beragam dari masyarakat. Reaksi tersebut dikarenakan RUU ini dianggap sudah terlalu mencampuri ranah privat seseorang.

Beberapa pasal-pasal yang dinilai sangat kontroversial antara lain :

  • Pasal 25 mengenai kewajiban Istri dan peran Suami.
  • Pasal 29 mengenai hak cuti melahirkan dan menyusui 6 bulan.
  • Pasal 74 mengenai penyimpangan seksual salah satu penyebab krisis keluarga.
  • Pasal 85, 86, 87, 88 dan 89 mengenai wajib lapor dan rehabilitasi untuk penyimpangan seksual/LGBT/Sadisme dan Masokisme.
  • Pasal 31, 140 dan 193 mengenai donor sperma dan ovum.
  • Pasal 32, 141, 142, dan 143 mengenai surogasi/sewa Rahim.

Melihat pasal-pasal tersebut mengandung isi yang kontroversial, beberapa pihak kemudian mempertanyakan tentang urgensi dari penerapan RUU tersebut. Salah satunya yaitu Komisioner Komnas Perempuan Bahrul Fuad yang menilai tidak ada hal-hal baru substansi yang diatur dalam RUU Ketahanan Keluarga.

Menurutnya apa yang tertuang dalam RUU Ketahanan Keluarga pada dasarnya sudah diatur dalam sejumlah undang-undang lain. Ia mengambil contoh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

“Sebenarnya kan RUU Ketahanan Keluarga ini sudah ada diatur dalam UU yang sudah ada secara substansi kebanyakan. Misal kita lihat di UU Nomor 1/1974 itu sudah diatur relasi dalam keluarga khususnya suami dan istri. Kemudian di Kompilasi Hukum Islam itu juga sudah ada. Kemudian di Undang-Undang KDRT juga ada sudah diatur,” tutur Bahrul Fuad.

Selain Bahrul Fuad, Komisioner Komnas Perempuan Theresia Iswarini menyebutkan hadirnya RUU Ketahanan Keluarga justru tumpang-tindih dengan undang-undang yang sudah ada. Ia pun menilai pembahasan RUU ini hanya akan membuang uang dan waktu.

“Karena pengaturan keluarga sudah ada dalam KUH Perdata, ada dalam UU Perkawinan. Kalau untuk anak ada di dalam UU Perlindungan Anak. Sudah banyak sebenarnya. Malah saya bingung mengapa harus dikeluarkan (RUU Ketahanan Keluarga),” jelas Theresia.

Baca Juga: 4 Kampung di Arguni Atas Mengalami Pemekaran Wilayah

Alasan RUU Ketahanan Keluarga Diusulkan oleh Anggota DPR

Menanggapi beragam kritik yang muncul terkait RUU Ketahanan Keluarga, beberapa anggota DPR angkat bicara. Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional Ali Taher menyebutkan alasan RUU Ketahanan Keluarga ini diusulkan karena melihat fakta sosial di masyarakat bahwa angka perceraian tinggi.

Menurutnya perceraian mulai meningkat di Indonesia pada tahun 2013 dengan angka 200.000 orang bercerai, lalu pada tahun 2014 menjadi 400.000 orang bercerai. Ia pun mengatakan penyebab tingginya angka perceraian tersebut dikarenakan permasalahan ekonomi dan perselingkuhan. Oleh karena itu RUU Ketahanan Keluarga perlu dibuat.

“Kerapuhan dalam rumah tangga tercermin dalam perceraian per tahun, terjadi peningkatan luar biasa. Pada 2013 itu 200.000 orang misalnya, 2014 itu 400.000 orang,” ujarnya.

Selain Ali, Anggota DPR dari Fraksi Golkar Endang Maria juga menjelaskan alasannya mengusulkan RUU Ketahanan Keluarga. Ia menyebutkan diusulkannya RUU ini dikarenakan kerpihatinannya dengan tindakan kekerasan yang kerap menimpa anak dan wanita.

“Ide dasarnya beberapa tahun terakhir ini tingginya kasus narkoba, miras, darurat kekerasan seksual, bahkan anak usia empat tahun memperkosa balita. Perilaku anak-anak SD, SMP, SLTA yang sudah mengarah ke seks bebas dan tiba-tiba anak SMP melahirkan tanpa dia tahu sudah hamil. Itu sangat memprihatinkan pribadi saya,” paparnya

Selain itu, landasan lain dari mengusulkan RUU itu adalah visi dan misi presiden yang menginginkan SDM unggul dan revolusi mental. Pangkal kedua program itu tidak lain dari ketahanan keluarga.

“SDM unggul harus diawali dari keluarga dan bagaimana keluarga tidak rapuh. Itu sebagai PRnya,” jelasnya.