Terorisme dan Revolusi Sosial Politik
Ilustrasi terorisme (foto : radarmalang.jawapos.com)

Terorisme yang berasal dari Bahasa Perancis ‘le terreur’ mulai didefinisikan terjadi pertama kali ketika pemerintah Perancis menggunakan kekerasan secara berlebihan terhadap mereka yang dianggap sebagai anti pemerintah pada saat Revolusi Prancis. Revolusi Prancis yang terjadi pada 1789 – 1799 merupakan periode radikal yang meruntuhkan monarki mutlak oleh kelompok sayap kiri.

Seluruh kalangan masyarakat, petani di pedesaan, hingga masyarakat terpinggirkan di perkotaan bergabung dengan idealisme kiri. Tradisi dan ide-ide lama, hierarki, aristokrat dan Gereja Katolik yang begitu berpengaruh terhadap iklim politik di zaman pertengahan perlahan digulingkan satu persatu oleh rakyat.

Dari penggulingan inilah, lahir apa yang kita kenal dengan Liberte, egalite, fraternite – kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Kebebasan rakyat, cikal bakal republik dan liberal di negera-negara Eropa. Dari Revolusi Prancis ini lah Napoleon Bonaparte mulai menapakkan jejaknya.

Selama Revolusi Prancis berlangsung, sebanyak 40.000 orang yang dianggap sebagai anti pemerintahan dieksekusi dengan guillotine (alat pemenggal kepala yang dianggap paling manusiawi pada saat itu). Dari sinilah, definisi terorisme muncul. Sebuah tindakan kekerasan brutal untuk mengganggu stabilitas. Terorisme bisa dilakukan oleh pemerintah, pun sayap ekstrem anti pemerintah.

Bentuk Terorisme Mulai Bergeser Pada Tahun 50an

Hingga Perang Dunia II, terorisme merupakan bentuk radikalisme sayap kiri untuk melakukan revolusi terhadap pemerintah. Yang disasar oleh mereka adalah pejabat-pejabat pemerintahan. Pembunuhan dan penculikan banyak terjadi pada zaman ini.

Baca Juga : Butuh Payung Hukum Untuk Lindungi Benda dan Situs Budaya Papua

Bentuk-bentuk pemerintahan yang otoriter mulai membangkitkan perlawanan rakyat. Sayap kiri kala itu mendapatkan tempat dan simpati, hingga mampu memantik rakyat untuk berani mengangkat senjata.

Pada tahun 50an, bentuk terorisme mulai mengalami pergeseran lagi. Bukan hanya pejabat pemerintahan yang menjadi korban, namun masyarakat sipil secara acak menjadi sasaran dari aksi ini. Dimulai di Aljazair, dilakukan oleh Front Pembebasan Nasional Aljazair, mereka mulai melakukan serangan acak terhadap sipil yang tidak mengerti apa-apa. Tujuan mereka satu, mengganggu stabilitas agar didengar oleh pemerintah yang sedang berkuasa.

Dari sinilah, mulai lahir aksi terorisme modern yang cenderung menggunakan bom. Filosofi bom dengan impak yang lebih eksplosif dan tidak mungkin untuk diabaikan dipilih sebagai opsi agar suara mereka lebih didengar lagi oleh pihak yang mereka sasar. Karakter dengan menyasar sebanyak mungkin korban dengan mengerikan ini, ditujukan agar bisa diliput oleh media massa secara internasional.