Tersisa 120 Ranjang Bagi Pasien Covid-19 di Ibu Kota
beritapapua.id - Tersisa 120 Ranjang Bagi Pasien Covid-19 di Ibu Kota - KataData

Tersisa 120 Ranjang Bagi Pasien Covid-19 di Ibu Kota – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Suharso Monoarfa, mengungkapkan data terakhir perihal ketersediaan ranjang bagi pasien Covid-19. Menurutnya, hingga 4 Juni 2020 hanya tersisa 120 ranjang bagi pasien Covid-19 di ibu kota.

“Saya ikuti sampai tanggal 4 Juni itu ketersediannya tinggal 120 di Jakarta. Tetapi orang sembuh juga cepat dan lama pasien dirawat di rumah sakit semakin pendek,” ujar Suharso dalam Bicara Data Virtual series bertajuk ‘Strategi Besar Pemulihan Nasional Pasca Pandemi’ dilansir dari Katadata.co.id, Selasa (09/06).

Meski ketersediaan tempat tidur menipis, Suharso mengatakan bahwa pasien yang sembuh pun bertambah. Per 4 Juni, jumlah kasus virus corona di Jakarta mencapai 7.600 kasus. Dari angka tersebut, 2.607 orang dinyatakan telah sembuh dan 530 orang meninggal dunia. Masih ada 1.670 pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit dan 2.793 orang melakukan isolasi mandiri.

Mengacu data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis tahun ini, DKI Jakarta pada 2018 memiliki 30.980 unit tempat tidur rumah sakit. Angka tersebut merupakan akumulasi dari ketersediaan tempat tidur di rumah sakit pemerintah, TNI/Polri, dan swasta.

Kejadian ini diharapkan tidak terjadi di wilayah selain ibu kota. Meski demikian, hal serupa sudah terjadi di Jawa Timur. Lonjakan kasus virus corona yang terjadi di sana membuat mereka harus menggunakan tempat tidur darurat.

Baca Juga: MotoGP Kembali Bergulir Pekan Depan

Masa PSBB Transisi, Kasus Covid-19 di Jakarta Melonjak

Setelah memasuki masa transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kasus virus corona di Jakarta mengalami peningkatan drastis. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, membenarkan pernyataan tersebut.

“Ini rekor terbanyak di Jakarta, sebelumnya 16 April itu ada 223 kasus. Tetapi saya sampaikan di sini, angka tertinggi hari ini bukan berarti selama tiga hari ini ada lonjakan kasus seperti yang dibayangkan,” ungkapnya Rabu (10/06).

Lonjakan tersebut sekaligus menjadi penambahan kasus corona tertinggi setelah sebelumnya terjadi pada 16 April. Diketahui jumlah penambahan kasus di Jakarta yang disampaikan pada hari selasa (09/06) sebesar 232 orang. Anies mengatakan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi dari data beberapa hari lalu.

“243 kasus ini, 40 rapelan dari rumah sakit, jadi angkanya yang benar itu 194. 194 itu dari mana? 113 dari pasien, 110 kegiatan tracing puskesmas. Ini pesan yang ingin saya sampaikan,” lanjut Anies.

Hal ini juga disampaikan oleh Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati. Ani mengatakan bahwa lonjakan kasus virus corona di Jakarta terjadi lantaran hasil pemeriksaan sampel tertunda.

“Diketahui bahwa pada hari Sabtu-Minggu itu terjadi libur, sehingga pengerjaan spesimen baru dikerjakan baru hari Senin,” kata Ani dalam konferensi pers yang ditampilkan saluran resmi Pemprov DKI Jakarta di Youtube, Selasa (9/10).

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, angkat bicara. Ia enggan menyalahkan ketegasan pemerintah dalam penerapan PSBB. Menurutnya, masyarakat merupakan garda terdepan untuk mengurai kasus Covid-19 itu sendiri.

“Yang paling penting sekarang masyarakat yang harus bertanggung jawab. Jadi, sekarang tuh kembali ke masyarakat,” ujar Pandu. “Konsepnya ini kita salah dalam PSBB, karena semuanya seolah-olah urusan pemerintah. Padahal garda terdepan masyarakat,” lanjutnya.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Hermawan Saputra juga berpandangan sama. Ia menilai masyarakat bersikap abai atas aturan pemerintah. Tak heran jika ada lonjakan kasus virus corona.