Tradisi Adu Betis Sebagai Tanda Syukur Panen Padi
beritapapua.id - Tradisi Adu Betis Sebagai Tanda Syukur Panen Padi - Masbei

Tradisi Adu Betis Sebagai Tanda Syukur Panen Padi – Hari itu, tampak kerumunan orang-orang. Mereka sedang menyaksikan dua orang yang nampak seperti orang berkelahi. Mereka saling berhadap-hadapan, melakukan kuda-kuda, kemudian melontarkan tendangan ke arah betis lawannya. Mereka melakukannya secara bergantian. Saking kuatnya tendangan, lawannya jatuh tak kuat menahannya.

Jika itu adalah buntut dari percekcokan dua orang pria dewasa, maka jual beli serangan tidak bisa dihindarkan. Faktanya, ini bukanlah perkelahian jalanan yang menampilkan adu jotos nan membabi buta. Masyarakat Bone, Sulawesi Selatan, lazim melakukan kegiatan adu betis. Masyarakat lokal menyebut tradisi itu dengan sebutan Mallanca.

Tradisi adu betis atau Mallanca merupakan bentuk syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan panen. Sawah di Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, kebanyakan adalah sawah tadah hujan yang hanya panen sekali dalam setahun. Ini pula berdampak pada penyelenggaraan Mallanca yang digelar setahun sekali.

Namun seiring berjalannya waktu, tradisi Mallanca tidak hanya dilakukan sekali dalam setahun. Dikutip dari detik.com, Mallanca bisa saja dilakukan 3 kali dalam satu tahun.

Tradisi ini bukanlah lomba adu kuat. Meski terlihat peserta adu kuat dalam tendangan, tujuan Mallanca adalah mengingat jasa leluhur mereka. Dahulu kala, leluhur masyarakat Maros merupakan sosok yang berjasa dalam menjaga kerajaan Gowa. Peluh dan darah yang mengucur dari perjuangan para leluhur tertuang dalam semangat Mallanca.

baca Juga: Memancing Ekstrem A’la Rock Fishing

Gotong-royong dalam Mallanca Sebagai Wajah Indonesia

Bruce Grant dalam bukunya yang berjudul ‘Indonesia’ mengatakan bahwa gotong-royong adalah model paling sederhana untuk menggambarkan demokrasi di Indonesia. Hal itu juga dijelaskan oleh Macionis, seorang tokoh sosiologi terkenal yang menghabiskan waktunya untuk meneliti masyarakat Jawa di Indonesia.

Sebagai wajah Indonesia, gotong-royong merupakan salah satu nilai yang juga dikandung dalam tradisi Mallanca. Sebelum melakukan adu betis, peserta terlebih dahulu melakukan ritual. Mereka melakukan zikir yang dipimpin oleh imam desa. Ini merupakan prosesi untuk menguatkan nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Dalam perayaan tradisi Mallanca, perempuan dan ibu-ibu bertugas menyajikan makanan. Usai melakukan persiapan Mallanca, mereka membawa makanan untuk disantap penonton dan peserta. Biasanya, peserta Mallanca dipersilakan makan terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan. Ini merupakan wujud gotong royong sebagai nilai luhur tradisi Mallanca.

Tradisi ini tidak boleh dilakukan oleh anak-anak dan perempuan. Pasalnya, tradisi ini cukup berbahaya. Mallanca dilakukan oleh dua kelompok yang terdiri dari kelompok penendang dan kelompok penerima. Bagi kelompok penerima, ia harus memasang kuda-kuda yang kuat. Sedangkan kelompok penendang diperbolehkan menendang sekuat-kuatnya.

Apabila tendangan seseorang terlalu kuat, maka cedera tidak dapat dihindari. Hal ini berlaku juga bagi si penendang. Uniknya, terdapat dua orang dalam kelompok yang menerima tendangan. Satu orang bertugas menerima serangan dan satu lagi menahan kakinya. Apabila betis lawan terlampau kuat, maka penendang tak luput dari cedera. Oleh karenanya, anak-anak dilarang ikut.

Adu betis biasanya tidak berlangsung lama. Sekitar 4 jam acara tersebut selesai, tergantung dari jumlah peserta. Setelah usai melakukan tradisi Mallanca, warga kembali ke rumah untuk menggarap hasil panen.