Tradisi Hadrat, Halalbihalal Masyarakat Tanpa Sekat di Papua
beritapapua.id - Tradisi Hadrat, Halalbihalal Masyarakat Tanpa Sekat di Papua - YT/ Moamar Gusti

Tradisi Hadrat, Halalbihalal Masyarakat Tanpa Sekat di Papua – Semarak Hari Raya Idul Fitri dirasakan oleh seluruh umat Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke, masyarakat Nusantara memiliki caranya masing-masing untuk merayakan momen kemenangan itu. Mulai dari tradisi kenduri kuburan di Aceh, hingga hadrat di Papua. Semua punya caranya sendiri untuk mewarnai hari raya.

Ujung Timur Indonesia, yakni Papua, juga tak luput dari perayaan hari lebaran. Tepatnya di Kaimana, masyarakat menggelar tradisi yang disebut sebagai hadrat. Tradisi ini tidak kalah menarik dari halalbihalal yang biasa dilakukan oleh orang Jawa. Sederhananya, masyarakat keliling bersilaturahmi dengan masyarakat lain dalam tradisi hadrat.

Mereka berjalan dalam sebuah rombongan sambil memainkan alat musik khas Indonesia Timur itu, yakni tifa. Menariknya, melalui tradisi ini masyarakat Kaimana kerap disebut sebagai masyarakat tanpa sekat. Tradisi hadrat tidak hanya diikuti oleh umat muslim, namun silaturahmi juga diikuti oleh umat Kristiani.

Baca Juga: Bisnis yang Paling Terdampak Covid-19

Menelusur Jejak Hadrat di Kaimana

DIketahui bahwa hadrat sudah ada sejak tahun 1970-an. Hal tersebut disampaikan oleh Muhammad Karet, Wakil Ketua Badan Komunikasi Remaja Masjid Indonesia (BKRMI), pada tahun 2017.

”Hadrat merupakan budaya Islam yang kami ambil dari Syekh Abdul Qodir Jailani. Pukulan Hadrat ini di mana-mana ada, tapi di Kaimana punya pukulan tersendiri,” jelas Muhammad Karet dilansir dari Kompas.

Karet menuturkan bahwa tradisi halalbihalal ala Papua biasanya berlangsung selama dua hari. Mereka melakukannya secara bertahap. Diawali dengan bersilaturahmi dari dalam kota, kemudian pada hari kedua dilanjutkan dengan bagian luar kota.

”Silaturahmi hadrat dilakukan dua hari, pertama berkeliling di dalam Kota Kaimana dari Kampung Sran (Seran), Kampung Bumi Surmai, Kampung Anda Air, hingga ke Kampung Kaki Air. Dan pada hari berikutnya dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat keluar kota seperti Kampung Kroy, Kampung Baru, dan Kampung Coa,” jelasnya.

Hadrat begitu meriah. Salah satu momen yang terekam oleh media informasi adalah acara hadrat pada tahun 2017. Kala itu, lebaran jatuh pada hari Jumat. Momen itu semakin meriah saat ratusan umat muslim berkumpul untuk salat Jumat yang disambung dengan hadrat. Mereka berkumpul sambil menabuh tifa serta melambai-lambaikan ranting dedaunan yang mereka bawa. Bayangkan betapa meriahnya acara tersebut.

Pawai itu sudah disiapkan oleh seluruh warga Kaimana. Sepanjang rute yang mereka tempuh, masyarakat menjajakan kue untuk peserta pawai yang bertandang. Kemeriahan hadrat semakin pecah dengan kehadiran anak-anak. Mereka menari, bersorak-sorak, hingga berebut kue yang disediakan warga.

Fakta yang menarik dari pawai hadrat di Kaimana, warga di sana didominasi oleh umat Kristiani. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), umat Kristen berjumlah 56,46 persen, sedangkan Islam 41,94 persen. Melalui data tersebut, tokoh Pemuda Kaimana, Randy Ombaier, menjelaskan situasi di sana.

‚ÄúTradisi hadrat dilaksanakan setiap Lebaran. Ini merupakan tradisi peninggalan sejak zaman dahulu oleh nenek moyang kami. Ajang silaturahmi ini juga diikuti warga Non-Muslim,” jelas Randy dikutip dari PapuaBaratOke.

Melalui hadrat, masyarakat nusantara belajar soal toleransi, ihwal masyarakat tanpa sekat di Kaimana. Makna silaturahmi begitu dalam disampaikan oleh warga Kaimana. Semoga semangat persatuan itu dapat ditularkan kepada segenap masyarakat Indonesia.