Tragedi Pilu, Permukiman Pasar Borobudur Manokwari Terbakar
beritapapua.id - si jago merah melahap permukiman Borobudur Manokwari, 800 KK kehilangan tempat tinggal. (foto: istimewa)

Kebakaran di permukiman sekitar Pasar Borobudur Manokwari membuat 800 KK kehilangan tempat tinggal. Warga yang kehilangan tempat tinggal tersebut saat ini masih berada di tenda pengungsian.

Setidaknya, ratusan rumah yang dihuni sekitar 800 KK pada 3 RT dan 2 RW, rata dilahap di jago merah. Hanya tersisa tiang tiang bangunan yang tertancap di pesisir Teluk Sawaibu itu.

Terlihat Anggota Koramil 01-1801 membantu memindahkan ribuan warga korban kebakaran dari kawasan Borobudur Manokwari ke tempat pengungsian sementara.

Komandan Posramil Manokwari Barat, Pelda Said Wali mengatakan pihaknya mengkerahkan seluruh Babinsa teritori Manokwari Barat untuk mengevakuasi warga korban kebakaran.

“Seluruh Babinsa teritori Manokwari Barat dikerahkan untuk mengevakuasi warga korban kebakaran dengan mendirikan tenda sebagai tempat pengungsian sementara sambil menunggu respons pemerintah setempat,” ujar Wali.

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya telah membantu warga dalam membangun dua tenda darurat berukuran besar. Dan tenda darurat berukuran besar sudah terpasang di kawasan Pelayaran Borasi Manokwari.

Baca Juga: Kapolri Tinjau Tiga Venue PON Untuk Pengecekan Keamanan

“Kami bersama warga sudah dirikan dua tenda darurat ukuran besar dilengkapi makanan siap saji sumbangan wakil rakyat di kabupaten dan provinsi Papua Barat,” ujarnya.

Namun tenda darurat tersebut masih memproritaskan untuk menampung warga lanjut usia, ibu dan anak-anak korban kehilangan rumah akibat kebakaran. Karena memang akibat dari kebakaran tersebut banyak warga yang kehilangan rumahnya.

Belum Mengetahui Penyebab Kebakaran

Sementara itu, Ketua RT 002, La Setia Baria mengaku tak tahu pasti penyebab kebakaran. Api yang tiba tiba muncul dari sebuah rumah seketika membesar dan membuat warga panik. Menurutnya, ratusan Kepala Keluarga menjadi korban dalam insiden itu.

Ia juga mengatakan bahwa ada 800 kepala keluarga yang bermukim di kawasan Borobudur Manokwari. Dan sebagian besar yang bermukim di kawasan Borobudur Manokwari tersebut adalah seorang nelayan dari Sulawesi Tenggara.

“Sebanyak 95 persen warga di sini bekerja sebagai nelayan dari suku Buton, Sulawesi Tenggara. Dari 800 KK dan 1500 jiwa, mereka tersebar di tiga RT dan dua RW,” ujarnya.

Dia berharap ada perhatian pemerintah setempat untuk menyediakan tempat tinggal sementara bagi ribuan warga komplek Borobudur yang kini kehilangan tempat tinggal.