Uang Nasabah Mandiri Raib, Tanggung Jawab Siapa?
beritapapua.id - menara plaza mandiri (foto : tangkapan layar video @youtube Vetsin Lovers)

Keamanan transaksi perbankan kembali menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya, seorang nasabah dari Bank Mandiri, melaporkan uang sebanyak Rp128 juta raib dari tabungannya.

Ia kemudian melaporkan hal ini kepada pihak bank, namun Mandiri bersikukuh bahwa transaksi atas rekening tersebut sah. Hasilnya? Bank Mandiri mengeluarkan surat yang menerangkan keengganannya mengembalikan uang nasabah.

Korban merasa Mandiri menghilangkan haknya sebagai nasabah secara sepihak. Karena, pihak korban bersikukuh tidak pernah melakukan transaksi sebagaimana yang tertulis dalam mutasi rekeningnya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh korban untuk mendapatkan haknya yang dianggap terampas oleh keamanan bank yang begitu rapuh?

Undang-Undang Perlindungan Konsumen

Hak nasabah terlindungi oleh Pasal 7 huruf g UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU Perlindungan Konsumen).

Bunyi dari pasal tersebut adalah sebagai berikut:

“Atas hak konsumen ini, maka pelaku usaha juga berkewajiban untuk memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.”

Nasabah selaku konsumen yang mengadakan perjanjian dengan Bank selaku penyedia jasa berhak atas kompensasi. Hal ini jika terjadi peristiwa hukum yang merupakan pelanggaran terhadap perjanjian antara kedua belah pihak.

Jebolnya rekening korban sebagai nasabah, merupakan tanggung jawab sepenuhnya dari bank, yang seharusnya memberikan keamanan atas jasa yang menjadi produknya.

UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

Bank sebagai penyedia jasa, di dalam Undang-Undang Perbankan, haruslah menerapkan prinsip kehati-hatian, dalam menangani rekening seorang nasabah.

Baca Juga : Salak, Buah Bersisik yang Mampu Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Hal yang menyebabkan peretasan atas rekening dari seorang nasabah, menjadi sepenuhnya tanggung jawab dari pihak bank, meskipun ada pihak ketiga yang bermain sebagai pelaku.

Apa Yang Bisa Diperbuat Oleh Korban?

Korban bisa mengajukan gugatan pada lingkup peradilan umum, dengan bank selaku pelaku usaha sebagai tergugat.

Penyelesaian ini merupakan jalan terakhir, jika sengketa tersebut tidak bisa terselesaikan dengan itikad baik.

Pengadilan Negeri Surabaya pernah menjatuhkan putusan yang memenangkan nasabah atas prinsip ketidakhati-hatian yang menyebabkan kerugian nasabah.

Putusan Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 891/Pdt.G/2010/PN.Sby ini menganggap atas jebolnya rekening nasabah adalah karena keteledoran pihak bank sebagai penyedia jasa.