Ulasan Lengkap : Sejarah Konflik Israel - Palestina
beritapapua.id - Ilustrasi konflik Israel Palestina (foto : liputan6)

Konflik antara Israel dan Palestina, yang kini sedang menjadi perhatian dunia (lagi), rupanya telah terjadi sejak ‘Zaman Besi’ dahulu.

Riwayat invasi Israel Kuno, tidak hanya terhadap Palestina saja, tetapi juga ke wilayah negara-negara yang dahulu bernama Kanaan.

Untuk bisa memahami tentang sejarah konflik Israel-Palestina, maka keseluruhan ceritanya harus terbagi ke dalam beberapa fase, karena Israel Kuno berbeda dengan Israel modern.

Sejarah Israel ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim, As atau Abraham, yang tertulis di dalam kitab suci Tanakh (kitab umat Ibrani), Alkitab serta Al-Quran.

Babad yang terkutip dalam kitab suci tiga agama besar ini, menjadi penanda masa Israel Kuno pada Zaman Besi (1.200 SM-12 SM).

Awalnya, Bani (bangsa atau kaum) Israel adalah suatu perkumpulan dari suku-suku yang menggunakan bahasa Semit.

Mereka merupakan keturunan Ya’qub (yang juga berjuluk Israel), cucu dari Nabi Ibrahim, As atau Abraham, dan mendiami Kanaan (wilayah kuno yang meliputi Palestina, Israel, Lebanon dan sebagian Yordania hingga Mesir).

Yaqub dan Keturunannya, Cikal Bakal 12 Suku

12 Suku Bani Israel Merupakan Penduduk Palestina

Sebagaimana tertulis di dalam Al-Quran maupun Alkitab, Ya’qub dan kedua belas anaknya, yang kelak dibagi menjadi 12 suku Bani Israel, merupakan penduduk Palestina.

Suatu ketika, Palestina mengalami musim paceklik yang berkepanjangan. Situasi buruk ini layaknya masa depresi besar yang harus dihadapi oleh penduduk Palestina kala itu.

Mendengar kondisi Ya’qub dan keturunannya begitu memprihatinkan, Yusuf, salah seorang putra Yaqub mengundang ayah dan keluarganya untuk hijrah ke Mesir.

Yusuf adalah anak kesebelas Ya’qub, yang telah meninggalkan Palestina sejak remaja. Saudara-saudara Yusuf yang merasa iri dan dengki karena kecerdasannya, bersiasat jahat untuk menyingkirkannya.

Mereka memberikan Yusuf kepada seorang musafir yang menjualnya kembali ke Mesir. Namun ternyata, berkat kecerdasannya, ia justru sukses, dan bahkan menjadi orang kepercayaan raja kala itu.

Lebih lanjut, setelah hijrah dari Palestina, ke Mesir, Yaqub dan keluarganya akhirnya menemukan kehidupan baru yang memang lebih baik. Maka, beranak pinaklah keturunan Yaqub, dan bertambah besarlah Bani Israel di Mesir.

Populasi Bani Israel Mulai Merisaukan Firaun

Kehidupan Yaqub dan Bani Israel keturunannya di Mesir, berjalan baik-baik saja selama tiga generasi.

Namun, dengan berjalannya waktu, kondisi sosial dan politik Mesir pun berubah mengikuti kebijakan Raja atau Firaun yang baru. Seiring dengan perubahan itulah, sikap Mesir terhadap Bani Israel pun berubah.

Kala itu, Firaun merasa risau atas populasi mereka yang bisa menjadi kekuatan musuh, jika mereka berkhianat. Maka, ia memutuskan untuk memperbudak dan menindas Bani Israel yang bertujuan untuk melemahkan dan meneror mereka.

Lambat laun, kekhawatiran Firaun semakin kronis. penyebabnya adalah gambaran dan  mimpi tentang kehancurannya, oleh Bani Israel.

Pada kondisi kekalutan yang luar biasa ini, maka ia memerintahkan kepada pasukannya untuk membunuh semua bayi Bani Israel yang baru lahir yang belum berusia satu tahun.

Baca Juga : Manfaat dan Gizi Sayur Bayam Si Pangan Super

Pada saat penindasan inilah, Nabi Musa dilahirkan dan memulai kisah Hijrah Bani Israel memasuki Palestina.

Karena khawatir akan keselamatan Bayinya yang masih kecil, maka ibunya, Yokhebed, memasukkan Musa ke dalam sebuah peti kecil dan meletakkannya di tepi Sungai Nil.

Bayi kecil itu kemudian ditemukan oleh anak Firaun Palmanothes yang bernama Puteri Merris dan diangkat anak sebagai pangeran Musa (Mousos).

Fase Nabi Musa, Sang Pembebas Bani Israel

Musa yang hidup dan tumbuh sebagai bagian dari kerajaan Mesir. Keluarga kerajaan pun mempersiapkan Musa sebagai pembantu Firaun dalam memerintah kerajaannya.

Musa menunjukkan bakat militer yang luar, bahkan berhasil memimpin pasukan Mesir untuk mengalahkan Etiopia ketika itu.

Tapi tampaknya, kecemerlangan Musa dalam memimpin pasukan tempur Mesir, memantik rasa iri yang luar biasa dari Firaun Khenephrês, penguasa kala itu. Oleh karenanya, ia pun berupaya untuk membunuh Musa.

Mendengar tentang rencana pembunuhannya, Musa melarikan diri ke Midian, sebuah wilayah di utara Laut Merah.

Dalam pelariannya dari kejaran Firaun, Musa bertemu dan membantu sekelompok perempuan yang sedang mengalami kesulitan ketika menggembalakan ternak.

Atas bantuannya, ayah dari para perempuan itu pun mengundang Musa ke rumahnya, dan menjadikannya sebagai penggembala ternak dan mengangkatnya sebagai suami dari salah satu anaknya. Periode kehidupan gembala ini berlangsung hingga 40 tahun ke depan.

Nabi Musa Kembali ke Mesir atas Perintah Allah

Suatu hari, ketika sedang menggembalakan ternaknya di lembah Thuwa, tiba-tiba dari dalam semak muncullah api dan suara yang memanggil namanya. Inilah peristiwa pertama kalinya Musa melakukan komunikasi dengan Allah.

Dalam firmanNya, Allah memerintahkan Musa untuk berbicara kepada Firaun, agar membebaskan Bani Israel dan membiarkan mereka pergi dari Mesir.

Untuk menemani Musa yang pada saat itu sudah menginjak usia 80 tahun-an, Allah memberikannya sebuah tongkat yang bisa berubah menjadi ular. Selain itu, Allah juga menyuruh Musa menemui Harun, kakaknya, agar bersama memimpin Bani Israel.

Kemudian berangkatlah Musa dan Harun ke Mesir dengan misi membebaskan Bani Israel dari penindasan dan perbudakan Firaun.

Sesampainya di Mesir, Musa dan Harun mencoba untuk meminta Firaun agar membebaskan Bani Israel secara suka rela, dan melepaskan mereka pergi bersamanya. Namun, Firaun dengan tegas menolak perintah ini dan menghardik mereka.

Karenanya, Musa pun berseru bahwa Allah akan menimpa Bangsa Mesir dengan 10 azab dan bencana, jika Firaun berkeras hati. Namun Firaun bergeming, sebagai akibatnya, diturunkanlah azab dan bencana kepada Firaun dan bangsanya selama bertahun-tahun lamanya.

Melihat Mesir bencana dan kemalangan yang terus melanda bangsanya, Firaun akhirnya takluk dan berjanji untuk membebaskan Bani Israel, asalkan semua bencana tersebut berhenti.

Akan tetapi, janji ini tidak ditepati olehnya, maka Allah pun meneruskan azabnya dan tergenapilah nubuatNya.

Bani Israel Hijrah dari Mesir ke Kanaan

Di tengah kekacauan dan bencana di Mesir, Musa dan Harun mengumpulkan semua Bani Israel, dan melarikan diri dari Mesir pada malam hari. Mengetahui pelariannya ini, Firaun mengejar mereka bersama pasukan lengkap.

Pelarian ini berhenti Ketika Musa dan kaumnya tiba di Laut Merah. Mereka tidak tahu bagaimana caranya menyebrang lautan. Ia pun memohon kepada Allah, yang  memerintahkan Musa untuk mengetukkan tongkatnya, dan lautan pun terbelah.

Rangkumnya, Musa dan 600.000 bangsanya berhasil menyeberangi Laut Merah, sedangkan Firaun dan pasukannya tenggelam, karena masih berada di tengah ketika laut tersebut menutup kembali.

Baca Juga : Festival Lembah Baliem, Sebagai Lambang Kesuburan dan Kesejahteraan

Selanjutnya, Allah menuntun Musa dan Bani Israel untuk kembali ke Palestina, tanah yang dijanjikan.

Mereka mengembara di gurun selama 40 tahun, dan selama itu pula Bani Israel terkatung-katung tidak berhasil masuk ke Palestina karena mendapat perlawanan.

Diceritakan juga, hal penyebabnya karena Allah yang marah kepada Israel, atas ketidakpatuhannya ketika menyembah berhala.

Perang Teritori dan Pendudukan Israel Kuno Pertama

Dalam pengembaran menuju Palestina, di tepian timur Sungai Yordan, mereka harus berhadapan dengan Pasukan Raja Hesybon yang keberatan akan kehadirannya. Maka Pecahlah konflik Israel di Timur Tengah sebagaimana tertulis di Alkitab.

Bani Israel kemudian berhasil mengalahkan pasukan Hesybon, dan menduduki wilayahnya. Mereka juga berhasil melawan dan menguasai beberapa wilayah di Yordania atas penguasaan ini kemudian dibagi-bagikan kepada 12 suku mereka.

Pengembaraan Bani Israel di bawah kepemimpinan Musa ini akhirnya harus berakhir di Yordania. Sebagaimana riwayat dalam Tarikh Ath-Thabari (1/432) dan Ibnu Katsir 2014, hlm. 618, Musa yang kala itu berusia 120 tahun, memutuskan untuk menemui ajalnya.

Muncul Zionisme Karena Romantisme Tanah Kanaan

Sebagai nabi teragung yang pernah hidup bagi orang Yahudi, maka semua kisah Nabi Musa di dalam dalam Torah (kitab suci umat Yahudi), adalah nubuat. Dari sinilah ide Zionisme itu lahir.

Sebelum Nabi Musa memutuskan untuk menemui ajalnya di Yordania, ia menunjuk Yusya dari Suku Efraim sebagai penggantinya. Di bawah kepemimpinannya, ia berhasil merebut dan menduduki Palestina.

Setelah berhasil merebut Palestina, maka mereka mulai membentuk sebuah sistem pemerintahan konfederasi. Setiap wilayah kekuasaan yang dipimpin oleh tiap suku Bani Israel.

Namun, karena tidak adanya pemusatan pemerintahan pada saat itu, maka keputusan-keputusan penting atas nama Bangsa Israel menjadi sulit untuk dilakukan.

Karenanya, mereka memilih untuk mengangkat seorang raja, yakni Thalut (Saul) dari suku Benyamin dan membentuk Kerajaan Israel.

Kelahiran dan Keruntuhan Kerajaan Israel Memicu Diaspora

Namun, Kerajaan Israel ini tidak berlangsung lama. Setelah kepemimpinan beralih dari Thalut kepada Dhawud dan selanjutnya Sulaiman, putra Dhawud, kerajaan ini pun segera berakhir.

Ketika Raja Sulaiman wafat, berakhir pula Kerajaan Israel. Mereka kemudian memecahkan diri menjadi Yehuda dengan ibu kota Yerusalem, dan Israel dengan ibu kota Samaria.

Rapuhnya Bani Israel kala itu, menyebabkan kerajaan lain mulai berani menginvasi mereka.

Bermula pada tahun 720 SM,  Asyur, Kerajaan Asiria yang berkedudukan di Mesopotamia melakukan penyerangan pertama. Serangan ini berhasil menaklukkan dan menghancurkan Samaria.

Sebagian besar suku Bani Israel menjadi tawanan di Mesopotamia, sedangkan sebagian besar lagi lari ke Yehuda.

Tetapi meskipun demikian, kerajaan Yehuda pun akhirnya bernasib sama. Kerajaan ini harus tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Babilonia Baru, yang berpusat di Ira, pada akhir abad ke-7 SM,

Tak ingin bernasib sama dengan saudaranya Israel, Raja Yehuda kala itu yang bernama Zedekia kemudian berkomplot dengan Mesir untuk melakukan pemberontakan.

Pada 597 SM Raja Yehuda dan Mesir memberontak, namun gagal. Sebagai akibatnya, Raja Nebukadnezar membuang banyak penduduk Israel ke Babilonia Baru.

Tak puas dengan kegagalannya, selang beberapa waktu, Kerajaan Yehuda mencoba melakukan pemberontakan lagi, namun ini pun kembali gagal.

Akibat pemberontakan ini, Nebukadnezar II, Raja Babilonia yang geram, menyerang dan menduduki secara penuh Yehuda. Hampir seluruh Bani Israel mengasingkan diri ke negara-negara tetangga.

Dari sinilah awalnya mengapa orang Yahudi hingga kini tersebar di mana-mana, dan tidak mempunyai tanah air, hingga gerakan Zionisme pada abad ke-19 muncul di Eropa.

Mereka menyerukan kepada orang-orang Yahudi agar kembali ke Palestina, karena menurut mereka Palestina adala Eretz Israel, tanah yang perjanjian.