Upaya Pembunuhan Soekarno di Momen Idul Adha
beritapapua.id - Upaya Pembunuhan Soekarno di Momen Idul Adha - Liputan6

Bulan Mei tanggal 1962 adalah waktu yang bersejarah. Bukan hanya bertepatan dengan momen lebaran haji, hari itu bertepatan dengan percobaan pembunuhan terhadap Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Kala beliau sedang melaksanakan salat Idul Fitri, suara tembakan pecah sebelum salat berakhir.

Sebelum senjata api itu meletus, terdengar dari barisan jemaah salat Idul Fitri teriakan seorang pria, “Allahu akbar!” Suara sekaligus memecah kesyahduan momen salat Ied, dilanjutkan dengan 3 suara tembakan. Peluru itu menyasar ke arah pada Presiden Soekarno. Jemaah berhamburan, jeritan ketakutan menyeruak, staf dan pejabat tercerai berai.

Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Presiden Soekarno, dan wakilnya Sudiyo, dengan tanggap melindungi presiden pertama RI itu. Seorang anggota DKP yang berjaga di belakang Soekarno, Soedrajat, terlebih dahulu tertembak. Ia meninggal sebagai pahlawan. Peluru lainnya melesat ke arah kepala Soesilo, anggota DKP dan satu peluru lagi mengenai bahu Ketua DPR K.H. Zainul Arifin.

Peluru itu melayang tanpa kendali. Tak luput, imam salat Ied kala itu, Ketua Nahdlatul Ulama KH Idham Chalid, luka ringan.

Gagal dengan tembakan senjata apinya, sang pelaku menerjang Soekarno. Sambil membungkuk ia mencoba mendekati orang nomor satu Indonesia itu. Melihat hal tersebut, Sribusono bersama Munawir menghadang pelaku. Alhasil, pelaku berhasil ditangkap dan diamankan.

Menteri Pertahanan Jenderal TNI A.H. Nasution kala itu turut merasakan panasnya momen percobaan pembunuhan Presiden Soekarno. Ia yang berdiri tepat di sebelah presiden merasakan desingan peluru melewati leher sebelah kirinya.

Baca Juga: Suku Kamoro dan Kebudayaannya yang Mendunia

Menggagalkan Percobaan Pembunuhan Presiden RI Pertama

Diketahui setelahnya, para pelaku percobaan pembunuhan Presiden Soekarno berasal dari organisasi DI/TII. Para pelaku yang tergabung dalam anggota khusus percobaan pembunuhan Soekarno antara lain Sanusi alias Fatah alias Soleh (32), Harun alias Kami alias Karta (27), Djaja Permana bin Embut alias Hidayat alias Mustafa (35), Tapbi alias Ramdan alias Jahaman bin Mahadi alias Iding (30), Abidin alias Hambali bin Tajudin (22), Cholil alias Pi’I bin Dachroj (20), Dachja bin Candra alias Musa (28), dan Nurdin bin Satebi (19).

Sebelumnya, Kapten CPM (Corp Polisi Militer) Dahlan, komandan pengawal Istana Presiden, mendapatkan kabar ihwal rencana percobaan pembunuhan itu. Ia pergi menemui, menemui Mangil Martowidjojo. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, akan ada rencana pembunuhan terhadap Presiden Soekarno saat salat Idul Adha.

Mangil dan Dahlan akhirnya berembuk mengaduk strategi pencegahan. Dalam Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967, Mangil menginstruksikan anak buahnya, baik yang berseragam dan yang tidak untuk melindungi Soekarno dalam kondisi apapun. Maksud beliau adalah menjadi pagar hidup.

“Tugas kamu melindungi diri pribadi Bung Karno, sebagai pagar hidup, artinya kamu melindungi Bung Karno dengan badan kamu sendiri, sebagai perisai pelindung Bung Karno dari segala macam serangan,” kata Mangil.

Informasi yang diterima Dahlan benar, kejadian itu betul-betul terjadi. Strategi pengamanan yang direncanakan pun terbukti berhasil, Soekarno selamat.

Sebelumnya, Mangil menempatkan sejumlah anggotanya dalam posisi yang strategis. Terdapat enam pos yang berisi dua orang anggota bersenjatakan AR-15, di sekitar jemaah salat Ied. Di belakang Soekarno, terdapat anggota yang diposisikan secara zig-zag. Mangil bersama wakilnya, Sudiyo, berdiri di depan Presiden, menghadap ke arah jemaah. Sedangkan Dahlan bersama anggotanya memeriksa jemaah yang hadir mengikuti salat.

Penempatan anggota di belakang Soekarno menjadi salah satu strategi yang manjur. Soekarno selamat, namu sejumlah anggota terluka.