Wabah Penyakit di Merauke Tahun 1910–1921
beritapapua.id - Wabah Penyakit di Merauke Tahun 1910–1921 - Radarindo

Wabah Penyakit di Merauke Tahun 1910–1921 – Wabah penyakit akibat virus Corona yang sedang terjadi saat ini sangat memilukan. Dampak yang diberikan wabah penyakit ini sungguh besar. Virus Corona menyebar ke penjuru dunia dengan sangat cepat, tidak terkecuali ke kabupaten Merauke. Tapi ternyata, Wabah virus Corona ini bukan satu-satunya wabah yang pernah terjadi di kabupaten Merauke. Masih ada beberapa wabah yang pernah terjadi sebelumnya dan cukup menggemparkan.

1910 sampai dengan 1917: Penyakit Granuloom

Pada tahun 1910 muncul penyakit ganas Granuloom yang menular di Malind milla atau yang kini kita kenal sebagai kabupaten Merauke. Penyakit ini pertama kali dikisahkan menyebar begitu tinggi, salah satunya karena disebabkan dari hubungan intim yang bebas ditambah dengan ritual adat. Penyakit ganas Granuloom yang menular itu hampir saja memusnahkan penduduk Merauke. Penyakit ini pun menjadi bencana besar yang mengancam keberadaan suku bangsa Malind.

Awal penyebarannya semua orang tidak tahu penyakit apa itu, sebab di tahun 1910 informasi sangat terbatas. Pemerintah Hindia Belanda yang membuka pemerintahan di Merauke pada 14 februari 1902, mengirim para misionaris Katolik dan petugas pemerintah Hindia Belanda. Pastor Petrus Vertenten MSC Misionaris Katolik asal Belgia yang tiba pada 10 november 1910 itu langsung mencatat pengamatannya terhadap Malind anim dan penyakit ganas itu.

Keterbatasan Tenaga Dokter

Para anggota Malind anim yang berpendapat bahwa kematian warga Malind itu disebabkan oleh perbuatan dukun-dukun jahat ada juga yang menduga dema-dema marah dan membalas dendam karena adat dilanggar. Semua bergumul, Pastor Petrus Vertenten MSC dan Pastor Johanes van de Kooy MSC sibuk menangani kasus penyakit menular ini bersama dengan petugas pemerintah Hindia Belanda. Namun keterbatasan tidak adanya Obat dan tenaga dokter menyebabkan banyak orang meninggal.

Sampai akhirnya pada tahun 1914, seorang dokter bernama Sitanala dikirim oleh pemerintah Hindia Belanda untuk membantu pelayanan kesehatan di Merauke, kemudian disusul dengan kedatangan dokter Van der Meer yang diutus pada tahun 1916 untuk mengadakan penyelidikan tentang jenis penyakit yang menimpa penduduk di Merauke. Hingga penemuan mereka diakui di tahun 1921 dan obat yang tepat digunakan.

Pihak Misionaris Katolik dan Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan kebijakan bagi Warga yang belum tertular untuk dipindahkan ke kampung sehat sedangkan yang tertular dikeluarkan dari kampung. Upaya ini disebut program desa teladan yang digagas oleh Vertenten pada tahun 1914 di Merauke, Kumbe, Okaba dan Wambi. Sampai akhirnya, Pastor Johanes van de Kooy MSC dipindahkan dan Pastor Petrus Vertenten MSC sendiri melayani. Dalam kondisi itu, Pastor Petrus Vertenten MSC bersama tetua adat mendorong warga untuk berkebun dan konsumsi sagu, gembili, dan ubi jalar.

Baca Juga: Relawan Gusdurian Salurkan Bama untuk 115 KK di Wamena

1918 sampai dengan 1921: Wabah flu spanyol

Tahun 1918 banyak warga kampung meninggal akibat sebuah wabah yang disebut wabah flu spanyol. Mula-mula wabah ini terjadi pada Oktober 1918 yang disebabkan oleh virus influenza tipe A H1N1.

Flu spanyol mewabah ke seluruh dunia, termasuk sampai ke Merauke. Pemerintah kolonial Belanda lamban menangani wabah ini, sementara virus ini bergerak seiring pergerakan manusia yang tinggi. Wabah flu spanyol ini mulai di Merauke yang menyebabkan setiap harinya ada minimal enam orang meninggal di satu kampung membuat penduduk menjadi panik dan takut. Para misionaris Katolik tidak tinggal diam, Pastor Vertenten mengunjungi kampung-kampung sekitar Merauke sedangkan Pastor Neyens mengunjungi kampung-kampung di seberang sungai Maro.

Pada Maret 1920, Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kolonial Belanda menulis kepada Prefek Apostolik di Langgur bahwa Dinasnya memuji gagasan Desa Teladan dan meminta program dari Misi Katolik dimana dibantu oleh pemerintah. Akhirnya desa teladan didirikan di Merauke, Kumbe, Okaba dan Wambi. Dokter Cnopius, seorang ahli penyakit kelamin datang ke Merauke untuk merawat orang sakit. Bersama karya pelayanan Pastor Petrus Vertenten dan para Misionaris MSC, penduduk asli Malind dapat mengatasi penularan penyakit menular ini. Kampung kembali ramai. Anak-anak asrama misi kembali ke Asrama. Aktivitas kembali menjadi normal. Vertenten dihormati oleh Malind anim.