Warga Magetan Usir Pendatang Pakai Meriam Bambu
beritapapua.id - Warga Magetan Usir Pendatang Pakai Meriam Bambu - TribunNews

Warga Magetan Usir Pendatang Pakai Meriam Bambu – Sekelompok pemuda terlihat tengah bersiap-siap dengan meriam bambunya. Mereka bukan tengah memperingati hari raya, melainkan sedang mengusir pendatang yang hendak memasuki kampung mereka. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Ringin Agung, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Cara pencegahan penyebaran covid-19 dengan menutup akses masuk desa menggunakan portal tampaknya bukan pilihan warga Desa Ringin Agung. Mereka memilih menggunakan dentuman meriam bambu untuk mengusir warga yang ‘bandel’ lantaran ingin memasuki desa tersebut.

Ihwal alasan pemuda warga Desa Ringin Agung melakukan hal tersebut dijelaskan oleh ketua RT setempat. Menurut Suparno selaku ketua RT Desa Ringin Agung, perilaku warga dengan meriam bambunya itu adalah bagian dari sosialisasi soal desa yang ditutup selama hari raya lebaran.

“Tidak sampai begitu, itu hanya sosialisasi bahwa jalan desa selama Lebaran ditutup sementara,” kata Suparno dikutip dari kompas.com, Selasa (26/05), 2020.

Satu kali dayung, dua pulau terlampaui. Begitu peribahasa yang cocok menggambarkan situasi tersebut. Suparno mengatakan bahwa sosialisasi menggunakan meriam bambu memiliki kaitan dengan momen lebaran.

Warga Desa Ringin Agung kerap menggunakan meriam bambu untuk merayakan hari raya Idul Fitri. Suparno mengatakan bahwa, bisa setiap sore menjelang berbuka puasa anak-anak di desa itu bermain mainan tradisional itu.

“Sudah tradisi setiap bulan puasa, menjelang buka remaja di sini menyalakan meriam bambu,” kata Suparno.

Baca Juga: DPRP Minta Tim Gugus Covid-19 Papua Dievaluasi

Desa Ringin Agung, Magetan dan Tradisi Meriam Bambu

Sejak puluhan tahun lalu, permainan perang bambu menjadi bagian dari warga Desa Ringin Agung. Mereka kerap memainkannya di lingkungan Dukuh Ndasun, yakni wilayah yang sedikit jauh dari permukiman warga sehingga suara dentumannya tak mengganggu warga.

Suparno mengakui bahwa meriam bambu punya fungsi lain di samping permainan tradisional. Ia mengatakan bahwa dentuman meriam bambu bisa digunakan sebagai penanda buka puasa.

“Dulu kan belum ada petasan. Jadi membunyikan meriam bambu selain sebagai hiburan juga sebagai tanda berbuka puasa,” imbuhnya.

Tradisi ini tidak lepas dari kondisi sosial masyarakat Desa Ringin Agung. Diketahui bahwa pohon bambu di desa tersebut tumbuh subur. Ini melatarbelakangi banyaknya profesi pengrajin bambu di desa tersebut. Suparno mengamini hal tersebut. Ia mengatakan bahwa hampir seluruh warga Desa Ringin Agung adalah pengrajin bambu.

Memasuki bulan Ramadan, para pengrajin Desa Ringin Agung akan menyiapkan bambu besar untuk membuat meriam bambu. Mereka yang ikut serta biasanya anak muda. Bahkan pada tahun 2019 lalu, karang taruna turut memeriahkan tradisi itu dengan membuat 50 meriam bambu.

Lantaran tahun ini wabah corona juga bertandang ke sana, warga berinisiatif menggunakan meriam itu untuk mencegah orang lain memasuki desa. Penggunaan meriam bambu untuk mencegah orang memasuki desa hanya karena bertepatan dengan momen lebaran. Suparno mengatakan, meriam bambu akan ditiadakan selepas lebaran.

“Besok sudah enggak ada (meriam bambu), kita sudah buka portal jalan desa,” kata Suparno.

Perihal meriam bambu, ke depannya Warga Desa Ringin Agung ingin melestarikan tradisi perang meriam bambu setiap bulan Ramadhan dan Lebaran. Bahkan, Suparno menuturkan warga berencana membuat festival meriam bambu di tahun berikutnya.