Yane Ansanay, Inspirasi Bagi Perempuan Papua
beritapapua.id - Yane Ansanay, Inspirasi Bagi Perempuan Papua - Opini Investigasi

“Memang sulit, tapi buktinya saya bisa. Sa (saya) yakin perempuan Papua lain pasti bisa,”

– Yane Ansanay

Dalam dunia ilmu fisika, nama Yane Ansanay tak lagi asing. Perempuan asal Papua itu menyandang gelar doktor fisika pertama. Ia mengakui bahwa seluruh perjuangan yang ia lalui memang sulit. Namun, tak berarti bahwa orang lain, khususnya perempuan Papua, tidak bisa. Kini, selain menjadi pengajar di bidang sains dan teknologi Universitas Cenderawasih (Uncen), Yane juga giat dalam penelitian obat-obatan dan pangan. Penelitian yang ia lakukan diupayakan untuk memaksimalkan bahan-bahan dasar yang berasal dari Papua.

Perempuan lulusan Universitas North Carolina State University, Amerika, ini menyimpan banyak mimpi. Perjalanannya meraih gelar doktor bukanlah akhir dari mimpinya. Ia masih punya asa untuk menciptakan sebuah pusat penelitian untuk anak-anak Papua yang bersekolah dalam bidang sains dan teknologi. Ini adalah salah satu upayanya dalam rangka memajukan tanah kelahirannya. Baginya, perlu banyak peneliti-peneliti muda yang mampu berkontribusi dalam memajukan kesejahteraan masyarakat Papua.

Baca Juga: Gerak Lincah Jonan Menghindari Kasus Korupsi Yang Menyebut Namanya

Pemanfaatan Energi oleh Yane Ansanay

Salah satu risalah Yane ialah ihwal pemanfaatan energi. Beragam permasalahan pemanfaatan energi masih di terjadi di Indonesia Timur itu, seperti program pemerataan listrik yang belum maksimal dan penggunaan minyak tanah yang belum bisa ditinggalkan. Permasalahan tersebut membuat beberapa bagian di Papua belum teraliri listrik. Menurut Yane, perlu adanya pendekatan baru dalam rangka menyelesaikan persoalan tersebut. Sebuah pendekatan yang mempertimbangkan kondisi Papua. Ragam permasalahan tersebutlah yang membuatnya terjun pada ilmu fisika terapan, khususnya energi terbaru dan terbarukan.

Yane melihat bahwa salah satu materi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan adalah bahan-bahan alam yang melimpah ruah di Tanah Papua. Hal sederhana yang Yane sebutkan ialah limbah buah-buahan yang dapat ditemui di pasar-pasar. Limbah buah-buahan tersebut dapat diolah menjadi bioethanol yang mana dapat menggantikan bensin. Bioethanol pula dapat menggantikan minyak tanah yang digunakan oleh sebagian besar rumah tangga. Bahkan, Yane bersama rekannya di Uncen tertarik untuk mengembangkan mikro algae sebagai pengganti solar.

Tak hanya lembaga riset terpadu, Yane punya mimpi lainnya yang tak kalah mulia. Ia berharap akan ada lebih banyak perempuan asal Papua yang mampu bersaing di kancah internasional. Sebagaimana kalimat yang ia lantunkan kala dijumpai wartawan, kalimat itu pula yang menjadi semangat bagi perempuan lain di Tanah Papua. “Kalau Sa bisa, Sa yakin perempuan Papua lain juga bisa.”